Belum terlalu lama, kira – kira dua bulan yang lalu saya memutuskan untuk menggunakan Blackberry sebagai sarana pendukung pekerjaan dan mobilitas sehari – hari. Rasanya belum sangat terlambat apabila saat ini saya menuliskan pengalaman pribadi tentang menggunakan gadget baru ini, meskipun BB yang saya pakai bukanlah tipe terbaru keluaran RIM. Hitung – hitung, sharing saya ini untuk menunjukan bahwa blog ini masih hidup, setelah sekian lama tidak ter-update.
Saya menggunakan Hand Held Bold 9000. Alasan memilih tipe ini memang adalah budget. Harga Bold relatif lebih terjangkau setelah RIM mengeluarkan penerusnya yaitu Onyx (9700). Kebutuhan utama saya memang sebatas untuk mengelola email kantor, mengikuti beberapa mail list yang tidak sangat padat, document viewer, calendar, bbm dan chat, sedikit social media (facebook dan twitter) dan sekali waktu mobile blogging di http://jarwadi.posterous.com . Bold 9000 saya pikir cukup.
Selesai urusan memilih Hand Held, selanjutnya adalah memilih operator yang tepat. Bagi orang yang tinggal di pedesaan seperti saya pastilah tidak seleluasa mereka yang tinggal di ibukota untuk memilih sebuah produk dalam hal ini operator seluler. Hanya ada 3 operator seluler yang bisa dipertimbangkan yang coverage -nya menjangkau desa dimana saya tinggal. ( Desa Grogol, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi D I Yogyakarta) Operator itu adalah Telkomsel, Indosat dan Excelcomindo. (XL)
Secara subyektif saya menjatuhkan pilihan hati pada Telkomsel. Mengapa?
Jangkauan terluas. Telkomsel adalah operator pertama yang saya gunakan sejak saya menggunakan ponsel Nokia 3310 pada awal tahun 2000 an. Pada saat itu memang kalau ingin ada sinyal di ponsel maka mau tidak mau ya harus memasang kartu HALO atau simPATI. Telkomsel selama bertahun – tahun bermain solo di Kabupaten Gunungkidul. Saat ini sampai di pelosok Kabupaten gaplek yang dikenal dengan kesulitan air ini telah banyak didirikan BTS Telkomsel. Saya sudah membuktikan sendiri sinyal Telkomsel di sekolah – sekolah di daerah terpencil yang saya kunjungi setiap tahunya. Bagi yang suka berwisata bisa membuktikan sinyal telkomsel di pantai – pantai gunungkidul yang indah mulai dari pantai Baron sampai Wediombo dan Sadeng.
Kualitas dan Kehandalan Jaringan Data. Lagi – lagi telkomsel merupakan yang pertama dan satu – satunya yang memasang jaringan 3G/HSDPA di kota Wonosari dan beberapa kecamatan di kabupaten ini. Bahkan ketika operator lain hanya menyediakan jaringan GPRS, BTS Telkomsel yang paling terpencil pun telah dilengkapi 2,5 G alias EDGE. Saya tahu ini karena selama bertahun – tahun saya menggunakan produk Telkomsel Flash unlimited.
Harga. Untuk harga memang Telkomsel setahu saya yang termahal di Indonesia. Telkomsel masih membandrol BIS Unlimeted seharga Rp 150.000, masih dikenakan ppn 10% bagi yang menggunakan layanan BIS pada kartuHALO. Mudah – mudahan harga ini segera diturunkan. Tetapi menurut saya yang perlu didahulukan adalah peningkatan kualitas jaringan itu sendiri dan penerapan tarif yang jujur. Banyak teman – teman yang menggunakan operator tetangga mengeluhkan tentang biaya yang dikenakan setelah browsing menggunakan Operamini atau mendownload suatu file. Transparasi seperti itu juga isu penting bagi saya. Untungnya tagihan saya bulan lalu tidak dikenakan biaya penggunakan data browsing dengan Operamini atau download file dari 4shared.com. Telkomsel dilihat dari *889# memberikan bonus 25 Mb. Jadi misalnya mengakses data yang mana saya ragu apakah masuk dalam paket BIS Unlimited atau tidak bisa dilihat dengan men check quota 25 Mb agar tidak serta merta jatuh celaka kena tagihan.
Alasan terakhir saya menggunakan layanan Telkomsel BB tentu saja karena saya tidak mau kehilangan nomor kesayangan dengan tetap membawa satu ponsel.
Wah, rupanya saya sudah banyak memuji. Baiklah sampai waktunya saya menyampaikan unek – unek saya tentang Telkomsel dan Blackberry.
Yang sering kali membuat saya suka bete biasaya adalah menurunya performa jaringan data Telkomsel pada antara jam 20.00 WIB sampai 22:00 WIB.
Hal lain yang tidak kalah mengganggu adalah sinyal yang sering hilang ketika sedang di rumah. Entah ada hubungannya atau engga penurunan ini terjadi kira – kira sejak operator kompetitor (si biru) mengoperasikan BTS di dekat kantor desa Grogol. Beberapa bulan yang lalu Telkomsel telah berencana membangun BTS di desa ini dan sudah menyewa tanah milik warga untuk dibangun tower, meskipun entah mengapa sampai menjelang lebaran ini, menara BTS itu tidak lekas dibangun.
Mudah – mudahan Telkomsel segera memperbaiki kualitas jaringan secara umum dan menyelesaikan BTS di desa saya, syukur syukur dilengkapi dengan BTS 3G serta segera mempertimbangkan untuk menurunkan tarif BIS agar saya lebih mantab ber-BB


